Showing posts with label Tajwid. Show all posts
Showing posts with label Tajwid. Show all posts

Sunday, 10 February 2019

Tips Memperindah Bacaan Al-Qur'an dengan Mempelajari Sifat Huruf


Lesehan Kampun – Sifat huruf artinya sesuatu yang tidak pernah lepas dari huruf. Sifat akan selalu melekat pada huruf dalam kondisi berharakat baik fathah, kasrah, dhammah, maupun sukun.

Sifat huruf ialah ciri-ciri dari suatu huruf, apabila kita mengucapkan huruf di dalam Al-Qur’an tidak sesuai dengan sifat pada huruf tersebut. Maka kita akan mengucapkan huruf tapi bukan huruf itu yang kita baca. Sebagai contoh, ketika anda berjumpa dengan teman, kemudia anda menyebutkan ciri-cirinya satu persatu kepada abang anda, tiba-tiba abang anda membantah, si fulan kulitnya bukan hitam. Begitu juga dengan huruf di dalam Al-Qur’an, ketika salah membacakan sifatnya maka salah pula pengucapan hurufnya.

Urgensi Mempelajari Sifat Huruf

Mengkaji sifat huruf sangat penting. Jika kita mengucapkan satu huruf, dan ada kesalahan pada satu sifat saja dari semua sifat huruf itu, maka dianggap huruf itu belum dibaca. Contoh pada awal diatas menggambarkan sifat huruf dengan sifat manusia, jika salah menyebutkan sifat dari satu sifat orang tersebut, maka bukan itu orangnya, tapi orang lain. Jika satu sifat huruf saja salah kit abaca, maka bukan huruf itu yang kit abaca, tapi huruf lain. Sehingga huruf itu belum dibaca.

Sebagai contoh saat mengucapkan huruf  ظَ, ketika kita salah membaca sifat tebal huruf tersebut menjadi tipis, maka akan berubah menjadi ذَ. Contoh lain pada huruf صَ tidak di baca tebal, maka akan berubah menjadi huruf سَ. Selanjutnya ketika kita membaca kata نَضِجَت akan tetapi huruf ن terbaca tebal maka akan menjadi no, sehingga kita mengucapkan kullama dodijat, padahal no tidak ada dalam bahasa arab. Banyak contoh lain ketika kita membaca Al-Qur’an tidak menggunakan kaidah sifat huruf, maka huruf akan berubah menjadi huruf yang lain, bahkan kita tidak mengetahui huruf tersebut merupakan huruf hijaiyah atau tidak.

Bentuk-Bentuk Sifat Huruf

Sifat huruf ada 17. 17 sifat ini terbagi menjadi dua, yaitu sifat yang ada lawan dan yang tidak ada lawan. Sifat yang ada lawan berjumlah 5 sifat, lawannya 5 sifat, sehingga jumlahnya 10 sifat. Sementara sifat yang tidak ada lawan ada 7 sifat. Dari 17 sifat ini, setiap satu huruf hijaiyah dalam Al-Qur’an setidaknya paling sedikit memiliki 5 sampai 7 sifat

Sifat yang memiliki lawan
1. Jahrun (جهر)             >< hamsun (همس)
2. Syiddah (٥شدّ) >< Rakhawa (رخاوة)
3. Isti’la (إستعلاة) >< Istifal (إستفال)
4. Ithbaq (إطباق) >< Infitah (إنفتاح)
5. Ishmat (إصمات) >< Izlaq (إذلاق)

Sifat yang tidak memiliki lawan
1. Shafir (صفير)
2. Qalqalah (قلقلة)
3. Lin (لين)
4. inhiraf (إنحراف)
5. Takrir (تكرير)
6. Tafasysyi (تفشّي)
7. Istithalah (إستطاله)

A. Sifat Huruf yang Memiliki Lawan

Sifat yang berlawan pada huruf Al-Qur’an memiliki 10 sifat, yaitu

1. Hamsun x Jahrun

- Definisi Hamsun: “Suara berdesis dan pita suara tidak bergetar”.
Huruf-huruf hamsun: ف ح ث ه ش خ ص س ك ت atau (فَحَثَّهُ شَخْصٌ سَكَتْ)
- Definisi Jahrun: “Suara tidak berdesis dan pita suara bergetar”.
Huruf-huruf Jahrun: seluruh huruf hijaiyah selain huruf-huruf hamsun.

2. Syiddah >< Rakhawah

- Definisi Syiddah: “ Makhraj huruf menempel kuat sehingga suara berhenti dengan sendirinya tanpa dikendalikan". Makraj huruf menempel kuat disebut dengan mu’thayat syiddah (proses syiddah). Suara berhenti dengan sendirinya disebut dengan natijah syiddah (hasil syiddah). Jadi sifat syiddah memiliki mu’thayat syiddah dan natijah syiddah.

Huruf Syiddah: أ ج د ق ط ب ك ت. Atau (أَجِدْ قَطٍ بَكَتْ). Kalimat ini ada yang mengartikan, "Saya menemukan kucing menangis". ada juga yang mengartikan, "Saya menemukan Qathin Menangis".

- Definisi Rakhawa: "Makhraj huruf tidak menempel kuat sehingga suara berjalan. Jika berhenti, maka itu karena dikendalikan. "Makhraj huruf tidak menempel kuat disebut dengan mu'thayat rakhawah (proses rakhawah). Suara berjalan disebut dengan natijah rakhawah (hasil rakhawah). Jadi sifat rakhawah memiliki mu'thayat rakhawah dan natijah rakhawah. 

Huruf-huruf rakhawah: seluruh huruf hijaiyah selain huruf-huruf syiddah dan bainiyyah.

- Definisi Bainiyyah: "sifat antara syiddah dan rakhawah". Huruf-huruf Bainiyyah ada lima.
Huruf-huruf Bainiyyah: ل ن ع م ر, atau (لِنْ عُمَرْ). Artinya, "Lembutlah wahai Umar". Sebenarnya, pada syiddah dan rakhawah ada mu'thayat (proses) dan natijah (hasil). Pada syiddah, mu'thayat dan natijahnya syiddah. Begitu juga pada rakhawah, mu'thayat dan natijahnya rakhawah. Kita detailkan menjadi:

Syiddah:
Mu'thayat Syiddah        : makhraj huruf menempel kuat.
Natijah Syiddah            : suara berhenti.

Rakhawah:
Mu'thayat Rakhawah    : makhraj huruf tidak menempel kuat.
Natijah Rakhawah        : suara berjalan.

Bainiyyah terjadi karena perbedaan antara mu'thayat dan natijah, atau karena mu'thayat syiddah dan rakhawah bersatu, atau karena natijah syiddah dan rakhawah bersatu. Pada (ل) , (م), (ن) , mu'tjayatnya syiddah, tapi natijahnya rakhawah. Bedanya (ن) dan (م) suara keluar dari hidung, sementara (ل) suara keluar dari mulut. Karena mu'thayat syiddah tapi natijah rakhawah, maka (ل) , (م), (ن)  bukan syiddah dan bukan rakhawah, akan tetapi bainiyyah.

Sementara huruf (ع) menggabungkan dua natijah. Pertama suaranya berjalan (natijah rakhawah), kemudian suaranya berhenti (natijah syiddah). Sehingga (ع) bukan syiddah dan bukan rakhawah, tapi bainiyyah.

Kemudian, huruf (ر) menggabungkan dua mu'thayat. Karena ketika mengucapkan (ر) lidah menempel kuat, kemudian terlepas. Menempel kuat lagi, dan terlepas lagi. Ketika lidah menempel kuat disebut mu'thayat syiddah dan ketika lidah terlepas disebut mu'thayat rakhawah.

3. Isti'la >< Istifal

- Definisi Isti'la : Terangkatnya pangkal lidah
Huruf-huruf isti'la: خ ص ض غ ط ق ظ. atau (خٌصَّ ضَغْطٍ قِظْ), artinya, "maka di tempat yang kecil tinggallah.

- Definisi Istifal: Tidak terangkatnya pangkal lidah
Huruf-huruf istifal: seluruh huruf selain huruf -huruf isti'la.

4. Ithbaq >< Infitah

- Definisi Ithbaq: Terangkatnya pangkal dan tengah lidah.
Huruf-huruf Itbaq: ص ض ط ظ.

- Definisi Infitah: Tidak terangkatnya pangkal dan tengah lidah.
Huruf-huruf Infitah: Seluruh huruf hijaiyah selain huruf-huruf ithbaq.

5. Izlaq >< Ishmat

- Definisi Izlaq: Huruf-huruf yang mudah diucapkan.
Huruf-hurufnya: فِرَّ مِنْ لُبْ) .ف ر م ن ل ب). keenam huruf ini mudah diucapkan oleh orang Arab, sehingga mayoritas kosa kata dala bahasa Arab memiliki salah satu dari keenam huruf ini.

- Definisi Ishmat: Huruf-huruf yang sulit diucapkan.
Huruf-huruf Ishmat: seluruh huruf hijaiyah kecuali huruf-huruf Izlaq.

B. Sifat Huruf yang Tidak Memiliki Lawan

1. Shafir

- Definisi Shafir: Secara bahasa artinya suara yang mirip dengan suara hewan bersayap. Secara istilah, Shafir adalah, suara tambahan yang keluar di antara ujung lidah dan gigi seri.
Huruf-huruf Shafir: ص ز س.

2. Qalqalah

- Definisi Qalqalah: Secara bahasa artinya ledakan. Secara istilah Qalqalah adalah pantualan suara. 
Huruf-huruf Qalqalah : ق ط ب ج د. atau: (قُطُبُ جَدٍ). Quthb artinya yang paling tinggi. Jadin artinya kesungguhan. Makna kalimat ini adalah sebuah ketinggian haruslah dicapai dengan usaha yang sungguh-sungguh.

3. Lin

- Definisi Lin: Secara bahasa artinya lembut. Secara istilah, Lin artinya mengeluarkan huruf dengan mudah. 
Huruf-huruf Lin: adalah waw sukun dan ya sukun yang sebelumnya fathah: (أَوْ) dan (أَيْ).

4. Inhiraf

- Definisi Inhiraf: Secara bahasa artinya melenceng, membelok, miring, condong dan kesalahan. Secara istilah, ulama berbeda pendapat. Pendapat pertama mengatakan bahwa inhiraf artinya "huruf yang salah di ucapkan tanpa sengaja".
Huruf-huruf Inhiraf: ر ل.

Contoh kesalahan pada huruf (ل), pada kata waqulna (وَقُلْنَا) sering dibaca waqunna (وَقُنْنَا). Huruf (ر) sering dibaca menjadi huruf lain, seperti (بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمَانِ) tanpa sengaja dibaca (بِسْمِ اللهِ وْرَ حْمَانِ).

Pendapat kedua mengatakan bahwa inhiraf secara bahasa artinya, "melencengnya, atau membeloknya suara ketika mengucapkan huruf (ر) dan ( ل)". Karena ketika mengucapkan huruf ini, ujung lidah naik ke atas, sehingga suara keluar yang melaju lurus menjadi membelok karena ditahan oleh lidah yang tegak ke atas.

5. Takrir

- Definisi Takrir: Secara bahasa artinya berulang. Secara istilah takrir adalah, "Berulangnya ujung lidah ketika mengucapkan huruf".
Huruf Takrir: adalah (ر).

6. Tafasysyi

- Definisi: Secara bahasa artinya menyebar. Secara istilah adalah, Menyebarnya angin ketika sedang mengucapkan suatu huruf". 
Huruf Tafasyisyi: (ش).

7. Istithalah

- Definisi: Istithalah secara bahasa artinya memanjang. Secara istilah, istithalah artinya, "Huruf Hijaiyah yang makhrajnya panjang".
Huruf Istithalah (ض)
Share:

Monday, 10 December 2018

17 Makharijul Huruf : Ilmu Tajwid


lesehankampus.com - Hai sobat kampus, InsyaAllah kita akan membahas makharijul huruf. Mari simak ulasan ini ya.

Makharijul Huruf bisa diartikan sebagai tempat keluarnya huruf-huruf hijaiyah. Bila dilihat dari segi bahasa Arab, makharij itu asal kata dari kharaja yang artinya keluar dan hurf itu huruf. Pada gambar 1 kita tandai titik sebagai letak makhrajnya.


Pembagian Makharijul Huruf

Gambar 1: Pembagian Makharijul Huruf

Makharijul Huruf  ada 17. Seperti yang di sampaikan oleh Imam Ibnu Jazary dalam matan Jazary: 

مَخَـارِجُ الحُـرُوفِ سَبْـعَـةَ عَـشَـرْ
Artinya:
"Tempat keluarnya huruf ada 17"

Kemudian pada 17 Makharijul Huruf tersebut dapat dikelompokkan menjadi 5 Makharaj Khusus. Yaitu:

a. Al-Jauf (rongga mulut)

Rongga mulut terdapat 1 Makharijul huruf. Yang dimaksud dengan rongga mulut ialah seluruh ruangan kosong pada mulut mulai dari bibir bagian dalam sampai pita suara (pangkal tenggorokan). Huruf-hurufnya ialah : 
ا و ي
Ketiga huruf tersebut merupakan huruf mad dan merupakan huruf dasar (bukan huruf Hijaiyah) ketika pengucapan mad (panjang). Contoh ketika membaca "نو" nu, mulut kita mengucapkan uuu dan itu merupakan suara dasar dari و. Perhatikan Gambar 2:
Gambar 2: alif, waw, ya. merupakan huruf mad ketika diucapkan.

                  Hukum Mempelajari Tajwid

b. Al-Halq (tenggorokan)

Yang dimaksud dengan tenggorokan ialah seluruh jalur pernafasan dari aqaa halq (pangkal tenggorokan) sampai adna halq (ujung tenggorokan).

Tenggorokan terdapat  3 Makharijul huruf, yaitu pada aqsal halq (tenggorokan jauh), wasatal halq (tengah tenggorokan), dan adnal halq (tenggorokan dekat). Bisa dilihat posisinya pada gambar 3 berikut.



Gambar 3 : tenggorokan dibagi tiga, Aqsal Halq (pangkal lidah), 
Wasatal Halq (tengah Lidah), dan Adnal Halq (ujung Lidah)

Kita jabarkan makhraj di bagian tenggorokan ya.


1. aqsal halq (tenggorokan jauh)

Mengapa digunakan kata Aqsa, karena tenggorokannya jauh dari bibir mulut, seperti bahasa Masjidil Aqsha (mesjid yang jauh). Lihat gambar 3 diatas
Hurufnya: ا ه

2. wasatal halq (tengah tenggorokan)

Tengah tenggorokan merupakan letak keluar huruf yang sangat sulit di ucap oleh orang Indonesia karena kita tidak memiliki huruf yang keluar dari tengah tenggorokan. Untuk letaknya lihat gambar 2
Hurufnya: ع ح

3. Adnal halq (tenggorokan terdekat)

Tenggorokan dekat maksudnya tenggorokan yang terdekat dari bibir mulut. Lihat gambar 2
Hurufnya: غ خ


c. Al-Lisan (lidah)

yang dimaksud lidah ialah seluruh bagian lidah mulai dari lidah terdekat dari bibir sampai lidah terjauh. 

Makharij pada lidah terbagi menjadi 10 bagian yaitu:

1.  Lidah terjauh (Pangkal lidah) terkena dengan plat langit-langit atas bagian belakang, hurufnya (ق)


2.  Lidah terjauh (pangkal lidah) terkena dengan langit-langit atas bagian tengah, hurufnya (ك)


3.  Tengah lidah terkena langit-langit atas bagian tengah, hurufnya (ج ي ش)


4.  Tepi dua sisi lidah (boleh satu tepi boleh dua tepi lidah) terkena gigi geraham, hurufnya (ض)


5.  Lidah terdekat (Paling ujung lidah) terkena gusi, hurufnya (ل)


6.  Ujung lidah terkena gusi dibawah makhraj ل, hurufnya (ن)


7.  Ujung lidah terkena gusi, hurufnya (ر)


8.  Antara ujung lidah terkena gusi agak jauh dari gusi, hurufnya (ط د ت)


9.  Ujung lidah di antara dua gigi seri bagian atas dan bawah, hurufnya (س ز ص)


10. Antara ujung lidah terkena dua ujung gigi bagian atas, hurufnya (ث ذ ظ)

Untuk lebih lanjut lihat Gambar 4:


Gambar 3: Pada bagian lidah terdapat 10 titik Makharijul Huruf

                  Hukum Mempelajari Tajwid

d. Al-Syafatan (bibir)

Pada bagian bibir terdapat 2 Makhraj, yaitu :

1. Ujung dua gigi seri bagian atas terkena perut bibir bagian bawah, hurufnya (ف)

2. Kedua bibir menyatu, hurufnya (و ب م)

Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar 3:

Gambar 3: Makhraj bibir terbagi dua yaitu pada bagian perut bibir basah bagian bawah
dan antara kedua bibir.
                  Hukum Mempelajari Tajwid

Bagian huruf ف, perut bibirnya harus pada bagian basah di dalam, agar angin nya dapat keluar.

e. Al-Khaisyum (rongga hidung)

Rongga hidung merupakan rongga tempat keluarnya Ghunnah. Hal ini disebabkan karena ketika mempraktikkan nun dan mim, posisi mulut tertutup dan cuma rongga hidung yang menyediakan jalan agar udara dapat keluar dari pernafasan. ketika membaca hukum bacaan idgham bi gunnah. Udara keluar 100% dari hidurng dan mulut 100% tertutup. 

Makhraj rongga hidung merupakan makhraj ghunnah. Jadi makhrajnya meliputi : Ghunnah (termasuk nun tasydid, idgam bi ghunnah, ikhfa, izdhar), nun dan mim sukun, dan nun dan mim berharakat.
lihat gambar 4
Gambar 4: semua yang berhubungan dengan ghunnah keluarnya lewat rongga hidung.
Demikian yang dapat disaji dalam tulisan kali ini. semoga bermanfaat sobat kampus dapat terus belajar Al-Qur'an dan memperbaiki bacaan.

Sumber: 
Yasin Jumaidi. Panduan Tahsin Tilawah Al-Qur'an. Modul. Darul Hijrah. Aceh Besar

Matan Jazary

Syekh Said Harun Ad-Dahaab. Kitab Haruniyyah. Mesir


Share:

Thursday, 29 November 2018

Mengapa Kita Wajib Mempelajari Tajwid (Bab Hukum mempelajari Tajwid)


Hai sobat kampus.....
InsyaAllah kita akan melanjutkan pembahasan mengenai Tajwid yaitu hukum mempelajari tajwid sehingga sobat sekalian dapat memahami apa yang akan dipelajari. Baiklah mari simak uraian ini.

Hukum mempelajari ilmu tajwid terbagi dua. Pertama tajwid praktek hukumnya fardhu'ain. Kedua mempelajari tajwid teori hukumnya fardhu kifayah.

Pertama, tajwid praktek ialah ketika kita membaca Al-Qur'an dengan benar misal mengucapkan huruf "Ba" secara praktek benar, baik dengan mengetahui teori tajwid maupun tidak.

Kedua, tajwid teori ialah ketika kita membaca Al-Qur'an dengan benar kemudian diikuti dengan membaca huruf "Ba" secara praktek dan didasari oleh teori tajwid. Sebagai contoh ketika kita ditanyai dengan pertanyaan, sebutkan enam sifat huruf "Ba" maka kita mampu mengucapkan sifat huruf "Ba" yaitu Jahr, Syiddah, Istifal, Infitah, Izlaq, dan Qalqalah.

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak kita jumpai orang yang membaca Al-Qur'an dengan baik dan benar, akan tetapi ketika ditanya teori-teori tajwid pada ayat yang dibaca malah ia tidak tau, orang yang seperti ini ia telah melaksanakan fardhu'ainnya. Sebaliknya, jika seorang salah membaca Al-Qur'an, maka ia telah melalaikan fardhu'ain yang wajib ia kerjakan, dan ia berdosa.

1. Hukum Tajwid Praktek

Membaca Al-Qur'an dengan baik dan benar hukumnya ialah fardhu'ain dari hasi kesepakatan oleh para ulama. Wajib bagi seluruh muslim bisa membaca Al-Qur'an dengan baik dan benar. Jika salah membaca Al-Qur'an, maka ia berdosa. Hal ini diperoleh dari empat sumber, yaitu:

Pertama, bisa membaca Al-Qur'an ialah bukti iman seseorang ada atau tidak. Allah Swt. berfirman yang artinya, "yaitu orang-orang yang Allah berikan Al-Qur'an, mereka mentilawahnya dengan sebenar-benar tilawah, merekalah yang beriman kepada Al-Qur'an. Dan barang siapa yang kufur terhadap Al-Qur'an merekalah orang-orang yang merugi". (QS. Al-Baqarah: 121).

Jadi, bisa membaca Al-Qur'an adalah salah satu indikasi iman seseorang kepada Al-Qur'an. Sebaliknya, jika belum bisa membaca Al-Qur'an adalah masalah besar, yaitu masalah iman dan ini merupakan masalah besar bagi seseorang muslim ketika ia belum bisa membaca Al-Qur'an. Hal ini dapat diberi kesimpulan bahwa bisa membaca Al-Qur'an bukan tugas imam mesjid, ustaz-ustazah TPA, guru ngaji, santri-santri dayah atau lainnya. Tapi atas nama muslim, beriman, maka ia wajib bisa membaca Al-Qur'an apapun pekerjaannya.

Kedua, pada teks kitab ulama yang menyatakan wajib, yaitu dalam kitab Matan Muqaddimah Jazariyah yang dikarang oleh Imam Muhammad Ibnul Jazary Asy-Syafi'i, atau sering disebut sebagai Imam Ibnul Jazariy. Mungkin orang Aceh belum banyak yang kenal beliau. Tapi orang Aceh pasti kenal dengan Imam Al-Mahalli, pengarang kitab Fiqih Al-Mahalli dan salah satu dari dua pengarang kitab Tafsir Jalalain. Maka Imam Ibnul Jazariy adalah gurunya Imam Al-Mahalli dalam bidang Al-Qur'an.

Dalam kitab Matan Muqaddimah Jazariyah, Imam Ibnul Jazariy berkata:
وَالأَخْذُ بِالتَّجْوِيدِ حَتْمٌ لازِمُ
۞
مَنْ لَمْ يُجَوِّدِ الْقُرَآنَ آثِمُ
لِأَ نَّـــهُ بِـــهِ الإِلَـــــهُ  أَنْـــــــــــــــــــــــزَلاَ
۞
وَهَكَذَا مِنْهُ إِلَيْنَا وَصَلاَ
وَهُـــــوَ أَيْـــضًـــا حِــلْيَــــــةُ التِّلاَوَةِ
۞
وَزِيْـــــنَـــــةُ الأَدَاءِ وَالْـــقِـــــرَاءَةِ
Artinya:

  • Mempelajari Ilmu Tajwid hukumnya adalah wajib, Barang siapa yang tidak membaca Al-Qur'an dengan tajwid maka ia berdosa
  • Karena seperti itu Al-Qur'an Allah turunkan, dan demikianlah darinya sampai kepada kita
  • Dan Ilmu Tajwid juga adalah memperindah tilawah, dan perhiasan dalam membaca 
  • Ilmu Tajiwd adalah memberikan setiap huruf haknya, baik sifat maupun makhrajnya.

Allah menurunkan Al-Qur'an satu paket dengan tajwid. Allah turunkan Al-Qur'an dengan panjang-pendeknya, jika salah panjang-pendeknya, Al-Qur'an bukan seperti itu. Allah menurunkan Al-Qur'an beserta dengung, jika salah dibaca dengungnya, maka Al-Qur'an bukan seperti itu. Salah sedikit saja ketika dibaca, Al-Qur'an tidak seperti itu.

Ketiga, ketika salah baca Al-Qur'an maknanya bisa berubah derastis. Misal salah panjang-pendek satu harakat saja maka maknanya berbeda jauh sekali. Contoh, Allah Swt. berfirman وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ Artinya, "ketika Nabi Musa berkata". ketika kita ucapkan "qoola", maka artinya berkata. Ketika dibaca "qolaa" maka artinya menggoreng. Pasti ketika kita salah membaca Al-Qur'an, arti yang terdapat pada Al-Qur'an akan berubah.


Keempat, salah baca Al-Qur'an tidak salah makna tetap tidak boleh. seperti yang ditakhrij oleh Imam As-Suyuthi, Sa'ad bin Manshur, dan Ath-Thabrani dan di sahih kan oleh Imam Ibnul Jazariy, dari Ibnu Mas'ud: 

"Pada suatu hari, Abdullah Ibnu Mas'ud mendengar bacaan Qur'an seseorang. Orang tersebut membaca  إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ dengan memendekkan bacaan "Ra". Padahal "Ra" itu mad wajib muttasil yang panjang 4 atau 5 harakat. Dibaca panjang atau pendek, maknanya tidak berubah, yaitu fuqara artinya orang-orang fakir. Tapi walau makna tidak berubah, Abdullah Ibnu Mas'ud berkata, "Rasulullah Saw. tidak baca Al-Qur'an kepadaku seperti ini". Yang salah baca bertanya, "Bagaimana juga Rasulullah Saw. membacakannya kepadamu"? Ibnu Mas'ud membaca ayat tersebut dengan memanjangkan "Ra". Ini menunjukkan bahwa wajib membaca Al-Qur'an dengan baik dan benar.

Jika salah baca Al-Qur'an berdosa, bagaimana orang yang belum bisa membaca Al-Qur'an? Rasulullah Saw menjelaskan:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : الْمَاهِرُ بِالْقُرآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ  وَيَتَتَعْتَعُ فِيْهُ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ .رواه البخاري ومسلم

Dari Aisyah R.A berkata, Rasulullah Saw. bersabda, "Orang yang mahir Al-Qur'an akan bersama para Rasul/malaikat yang mulia dan taat. Sementara orang yang membaca Al-Qur'an masih terbata-bata, dan dia lelah membacanya, maka baginya dua pahala (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menerangkan orang yang salah membaca Al-Qur'an akan mendapatkan dua pahala ialah jika orang tersebut masih mau membaca Al-Qur'an dan masih mau berlelah-lelah mempelajari Al-Qur'an

2. Hukum Tajwid Teori

Hukum mempelajari tajwid teori terbagi menjadi dua. Pertama, bagi masyarakat awam hukumnya adalah sunnah. Kedua bagi pengajar Al-Qur'an hukumnya adalah wajib fardhu'ain, sehingga mereka menjadi tauladan bagi masyarakat awam dalam mentilawah Al-Qur'an dengan sebenar-benar tilawah. Dan wajib setiap wilayah/mukim ada sekelompok yang mempelajari tajwid secara mendalam dan mengajarkannya. Jika tidak, maka semua wilayah dosa semua.

....فَلَوۡ لَا نَفَرَ مِنۡ کُلِّ فِرۡقَۃٍ مِّنۡہُمۡ طَآئِفَۃٌ لِّیَتَفَقَّہُوۡا فِی الدِّیۡنِ....

Artinya: "...Hendaklah ada sekelompok orang dari mereka yang mendalami agama..." (QS. At-Taubah:122).

Mendalami ilmu tajwin merupakan dari bagian Tafaqquh fiddin. Jika telah dilakukan oleh sebagian khusus dari mereka, terlepaslah kewajiban bagi orang lain.

Demikian pemaparan tentang tajwid. Semoga bermanfaat


Sumber:
Yasin Jumaidi. Panduan Tahsin Tilawah Al-Qur'an. Modul. Darul Hijrah. Aceh Besar

Share:

Saturday, 24 November 2018

Pentingnya Memahami Tajwid dan Makna Tilawah Al-Qur'an


Hai sobat Kampus, kali ini saya akan membahas terkait dengan Al-Qur'an fokusnya terkait dengan Tajwid. Yuk simak pemaparannya.

Makna Tilawah

Mahasiswa seharusnya sudah menjadi patron penggerak dalam segala hal, salah satunya di bidang Al-Qur'an ini. Melihat disekeliling saya masih banyak terdapat mahasiswa yang tidak bisa mengaji dengan baik, penulis mencoba membuat tulisan yang akan berfokus pada tajwid sehingga para mahasiswa dan khalayak umum lebih semangat dalam mempelajar Al-Qur'an. Dalam Tafsir Ibnu Katsir, Imam Ibnu Katsir menyebutkan beberapa pendapat ulama tentang makna tilawah dalam ayat ini sebagai berikut. 
Pertama, Ibnu Mas'ud menyebutka, "Sesungguhnya haqqa tilawatih adalah membaca sebagaimana Allah turunkan, tidak menggubahnya sedikitpun dan menghalalkan apa yang Al-Qur'an halalkan, dan mengharamkan apa yang Al-Qur'an haramkan". 
Kedua, Umar bin Khattab mengatakan, " Orang yang mentilawah Al-Qur'an dengan sebenar-benarnya tilawah adalah orang yang membaca ayat rahmat, ia memintanya pada Allah, dan jika ia membaca ayat azab, ia berlindung kepada Allah darinya. 
Ketiga, Hasan Al-Basri berkata, "Tilawah adalah menerapkan hukum Al-Qur'an."
Keempat, ibnu Abbas menafsirkan tilawah ini sesuai dengan surat Asy-Syams ayat 2, yang maknanya, "Dan ketika bulan mentilawah matahari." Arti tilawah adalah mengikuti.

Dari beberapa penafsiran oleh ulama terkait ayat diatas, maka disimpulkan arti tilawah memiliki dua makna yang tak terpisahkan.

Pertama, membacanya dengan sebenar-benar bacaan seperti Allah turunkan dan tidak mengubahnya sedikitpun.
Kedua, mengikuti isi kandungannya dengan menghayati maknanya.

1. Sisi Pertama Makna Tilawah

Seperti yang terdapat dalam Al-Qur'an terkait Haqqa Tilawatih, bahwa tilawah adalah bisa membaca Al-Qur'an dengan sebenar-benarnya bacaan. Karena bila kita sedikit saja salah membaca Al-Qur'an maka akan mengubah makna yang sangat jauh. Misalnya, salah huruf. Ada yang membaca, "Lailatul Qoderi hairummin alfi syahr". Seharusnya dibaca Khairun, artinya lebih baik. Kalau dibaca hairun, artinya heran, sesat, dan lainnya. Sehingga berubah maknanya menjadi, "Malam lailatul Qadar adalah malam yang heran, sesat dari seribu bulan". ini karena huruf Kha bertukar dengan huruf ha.

Kemudian ada yang salah panjang pendek. Misalnya, kata 'Wa iz qoola Muusa' yang Artinya, ketika Nabi Musa berkata. qooo dipanjangkan dan la dipendekan. Tapi ketika dibaca qo nya pendek dan la nya panjang, maka berubahlah artinya menjadi menggoreng. Sehingga jika dibaca  "Wa iz qolaa  Muusa" dengan qo yang pendek maka akan beruba menjadi, "ketika Nabi Musa menggoreng".

"Bismillah" artinya dengan nama Allah. Itu jika huruf sin dibaca benar. Tapi jika belum benar mengucapkan huruf "S" terbaca "tsa" maka berubah menjadi, "bitsmillah" artinya "dengan dosa Allah". Ismun artinya nama sedangkan itsmun artinya dosa. Banyak contoh lain yang tidak mungkin semua disebutkan yang intinya orang yang benar-benar beriman tentunya membaca Al-Qur'an dengan sebenar-benar bacaan.

2. Sisi Kedua Makna Tilawah

Sisi kedua dari tilawah ialah mengikuti isi kandungan yang dibaca dengan sebenar-benarnya ikutan. Orang yang beriman secara sungguh-sunggu kepada Al-Qur'an tidak hanya sekedar membaca Al-Qur'an, tapi ia mengikuti, mengamalkan isi kandungan setiap ayat yang ia baca. Tentunya dengan memahami makna yang dibaca.

Sebenarnya kekuatan Al-Qur'an itu ada pada makna terkandung. Dalam surah Al-Jin Allah mengisahkan bahwa suatu hari ada sekelompok Jin yang mendengar bacaan Al-Qur'an Nabi Muhammad, kemudian mereka mengatakan, "Sunggu kami sangat takjub mendengar Al-Qur'an". Pertanyaannya mengapa mereka takjub? apakah karena merdunya suara Nabi? bukan hanya karena itu, akan tetapi Jin berkata, "Karena Al-Qur'an menunjuki kepada kebenaran, sehingga kami tidak akan syirik lagi kepada Tujan kami". (QS.Al-Jin:1-2). Jadi isi kandungan Al-Qur'an  itu yang membuat jin-jin sangat takjub sehingga jin tersebut beriman.

Untuk memahami Al-Qur'an ada dua cara secara, yaitu: Pertama, Umar bin Khattab mengatakan, "Belajarlah bahasa arab, karena bahasa Arab itu adalah bagian dari agama kalian". kedua, Baca terjemahannya jika belum menguasai bahasa Arab, tafsirnya, atau mendengar penjelasan dari para ulama tentang ayat-ayat yang dibaca.

Semoga dengan tulisan ini kita semua dapat terus semangat memperbaiki bacaan dengan mempelajari Al-Qur'an serta mentadabburi kandungannya.

Sumber:
Yasin Jumaidi. Panduan Tahsin Tilawah Al-Qur'an. Modul. Darul Hijrah. Aceh Besar
Share:

Followers

Total Pageviews